Mengapa Broker Asuransi dan Agen Asuransi Sangatlah Berbeda?

Mei 29, 2019
Mengapa-Broker-Asuransi-dan-Agen-Asuransi-Sangatlah-Berbeda

Masyarakat Indonesia banyak yang belum mengenal manfaat asuransi, sehingga enggan untuk memproteksi diri maupun hal-hal yang berisiko kerugian. Hal ini terlihat dari minimnya kepemilikan asuransi dan rendahnya daya beli masyarakat Indonesia terhadap produk asuransi secara luas, apalagi jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia. 

Menurut Commision on Insurance Terminology of The American Risk and Insurance Association, asuransi didefinisikan sebagai pengumpulan kerugian-kerugian yang tidak ditimbulkan dengan sengaja melalui pemindahan risiko kerugian tersebut kepada perusahaan asuransi, di mana perusahaan bersedia untuk memberikan pertanggungan kerugian finansial kepada pihak penderita kerugian melalui tindakan pembayaran sejumlah uang atau melakukan jasa tertentu terkait risiko kerugian tersebut. 

Masyarakat Indonesia pada umumnya memiliki asuransi karena berupa salah satu tunjangan dari tempat bekerja dan/atau membeli produk asuransi dari agen asuransi dengan alasan karena agen tersebut adalah keluarga atau teman dekat, bukan karena kesadaran atas pentingnya manfaat memiliki asuransi. Sehingga, nasabah cenderung tidak mengetahui secara pasti apakah produk asuransi yang dimiliki sudah sesuai kebutuhan atau belum mulai dari besarnya premi, manfaat proteksi dan kemudahan klaim. 

Bagaimanapun, kesadaran atas pentingnya memiliki asuransi adalah tanggung jawab yang terintegrasi mulai dari pemerintah hingga penyedia asuransi. 

Pada umumnya, produk asuransi dapat dibeli melalui agen, broker ataupun secara online. Baik agen asuransi maupun broker asuransi sama-sama bisa memberikan produk asuransi terbaik untuk individu maupun perusahaan. Namun, terdapat perbedaan antara agen asuransi dengan broker asuransi. Salah satu perbedaannya adalah memberikan layanan konsultasi risiko. Kebutuhan pengelolaan risiko di perusahaan dan individu biasanya unik dan berbeda, maka perbedaan inilah yang menuntun broker asuransi memberikan layanan konsultasi risiko untuk menjawab kebutuhan tersebut. 

Broker asuransi diharuskan memiliki kemampuan dan pemahaman yang melampaui pengetahuan asuransi. Spesialisasi industri bisa menjadi keharusan bagi perusahaan broker asuransi yang menjalankan peran konsultasi ini dengan baik. Sehingga, broker asuransi memiliki kemampuan untuk merancang, menganalisa dan bernegosiasi dalam kepentingan klien atau calon pembeli polis asuransi.Selain memberikan konsultasi risiko, berikut adalah beberapa perbedaan lainnya: : 

  • Broker asuransi atau juga disebut pialang asuransi tidak bisa bersifat perorangan seperti agen asuransi. Broker asuransi harus berbentuk badan hukum dan memiliki ijin dari Departemen Keuangan dan diatur secara jelas dalam UU No. 2 tahun 1992, PP No.73 tahun 1992 dan keputusan Menteri Keuangan R.I No. 226/KMK.017/1993. 
  • Broker asuransi tidak berafiliasi dengan satuperusahaan asuransi. Berbeda dengan agen asuransi yang memang bekerja atas sebuah perusahaan asuransi tertentu dan bertugas memasarkan produk-produk dari perusahaan asuransi tersebut. Sehingga, broker asuransi dapat memberikan paket asuransi yang beragam dari beberapa perusahaan asuransi. 
  • Broker asuransi berhak menuntut pihak ketiga untuk dan atas nama tertanggung berdasar surat penunjukan/kuasa, sedangkan hal ini tidak berlaku bagi agen asuransi. 
  • Broker asuransi berhak menyarankan penyelesaian ganti rugi yang ditolak dan sekaligus mendampingi pengacara tertanggung bila harus diselesaikan melalui pengadilan atau jalur hukum, sedangkan agen asuransi tidak memiliki wewenang atas hal ini. 
  • Dalam beberapa kesempatan, walau kejadiannya sangat kecil, broker asuransi dapat melakukan pembayaran klaim terlebih dahulu kepada pihak tertanggung berdasarkan persetujuan pihak penanggung dari nilai klaim yang disetujui. 

Dari beberapa perbedaan peran dan layanan tersebut, tentu saja bisa dipertimbangkan untuk menggunakan jasa broker asuransi. Salah satu perusahaan broker asuransi dan konsultan manajemen risiko terkemuka di Indonesia adalah Marsh Indonesia yang sudah beroperasi sejak tahun 1983 dengan lisensi broker dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan). 

Marsh melayani kebutuhan klien (tertanggung) mulai dari perusahaan multinasional, korporasi, komersial, ritel, affinity hingga UMKM yang ditangani secara efektif dengan melalui proposisi nilai yang disesuaikan dengan kebutuhan klien (tertanggung). 

Sehingga, Marsh berperan penting dalam menjalin hubungan komunikasi dengan klien (tertanggung) dan merancang solusi asuransi atau solusi manajemen resiko untuk meminimalisir risiko kerusakan dan kerugian perusahaan klien. 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.